Pilih Laman

Minggu, 15 Desember 2019 | teraSeni.com~

Seorang penari yang agak besar tubuhnya dari dua penari lain mengatur tubuh-tubuh kecil dua penari itu sesukanya. Ia mengatur posisi jari tangan mereka untuk saling menusuk hidung masing-masing, sedangkan dua tangan lainnya sedang berpose peace layaknya sedang berfoto ria. Kemudian diarahkan oleh si pengatur itu untuk saling menjatuhkan dengan didorong, diberdirikan kembali, ditampar, jatuh lagi, dan seterusnya.

Adegan itu merupakan satu fragmen dalam tari yang disuguhkan oleh Hujan Hijau Dance-Lab untuk merepresentasikan kondisi pendidikan formal di Indonesia saat ini lewat pertunjukan seni.

Pertunjukan tari itu berjudul Human?. Pada 21 November 2019, saya bersama kawan menonton tari itu di Gedung Mursal Esten, Universitas Negeri Padang, dalam rangkaian acara Pekan Seni Nan Tumpah 2019. Sambil menunggu acara mulai, kami membaca dan mendiskusikan “konsep pertunjukan” Human? yang tertulis dalam katalog kegiatan ini.

teraseni.com
Salah satu adegan pada pertunjukan Human
Foto: Sumbarsatu.com

Poin pada “konsep pertunjukan”nya ialah, bahwa untuk pertunjukan ini telah diadakan riset sepanjang tiga tahun terkait pendidikan di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka mendapati pendidikan telah dikomodifikasi atau sederhananya penguasaan atau eksploitasi pendidikan oleh pihak tertentu. Atas masalah itu, Hujan Hijau Dance-Lab mengajukan sebuah solusi yakni pendidikan yang berperikemanusiaan agar nantinya bisa menghilangkan korupsi, kekerasan seksual, kerusakan alam, dan sebagainya.

Memang agak kurang tepat relasi tesis dan antitesis dari “konsep pertunjukan” Human? ini, yang seolah tidak menjawab persoalan pengisapan oleh suatu kelompok dominan, melainkan menerima dengan syarat-syarat tertentu. Akan tetapi, sepanjang pertunjukan pun hanya memperlihatkan “proses eksploitasi” dalam pendidikan tadi, bukan persoalan solusi. Untuk itu kita jadikan saja poin pemerasan dalam pendidikan itu dalam “konsep” Human sebagai problem yang ingin diurainya lewat tari.

Kurikulum yang Tersembunyi 

Dalam masyarakat yang dihegemoni oleh sekelompok penguasa, segala unsur kehidupan turut diperhitungkan guna mendukung kelanggengan kekuasaannya, termasuk ranah pendidikan. Alvin Toffler dalam bukunya Gelombang Ketiga (terjemahan Sri Koesdiyantinah, 1980) menjelaskan fungsi pendidikan pada masyarakat industri yang dikuasai oleh suatu kelompok dominan, baik itu kapitalis maupun komunis.

Bagi Toffler, pada gelombang kedua yang identik dengan perindustrian, pendidikan dimekanisasi. Pendidikan dalam masyarakat industri bertugas menghasilkan tenaga kerja baru untuk kerja di pabrik-pabrik. Yakni, pekerja “. . . yang patuh dan mudah diatur, sejenis mesin yang diperlukan . . .” (hlm. 50) mendukung efektifitas produksi di pabrik. Untuk itu, diperlukan sebuah “kurikulum yang tersembunyi” dalam pendidikan, yaitu, ketepatan waktu, kepatuhan, dan melakukan kerja yang berulang terus-menerus (hlm. 49).

teraseni.com
Penari tampak mengeksplorasi kursi sebagai simbol pendidikan
Foto: Instagram hujanhijaudancecelab

Tiga kurikulum tersembunyi itu coba diurai oleh pertunjukan Human?. Pertama, terkait ketepatan waktu, Human? memainkannya lewat musik pengiring. Pada separuh awal pertunjukan, bunyi-bunyian di pabrik sering dihadirkan, seperti sirine panjang sebagai tanda untuk istirahat, pulang, atau pergantian pekerja. Selain itu ada pula bunyi-bunyi mesin yang konsisten menemani para pekerja (baca: pelajar, penari). Bunyi ini terkadang seirama dengan salah satu gerakan penari, yang mengejewantahkan kondisi pekerja di pabrik yang mesti melakukan pekerjaan sama secara berulang, layaknya mesin dengan bunyi konsistennya. Pada posisi ini, fungsi bunyi tidak hanya merepresentasikan ketepatan waktu, pula kurikulum melakukan kerja berulang-ulang.

Selain itu, posisi bunyi dalam pertunjukan Human? pula melihatkan periodesasi jaman. Ada dua model bunyi yang berbeda pada paruh awal dan paruh akhir pertunjukan ini, yaitu bunyi analog yang diwakili oleh suara-suara di pabrik dan bunyi digital. Apabila pada masyarakat industri awal identik dengan bunyi-bunyi analog, pada masyarakat industri selanjutnya yang serba digital dilekatkan dengan bunyi-bunyi digital.

Pada beberapa adegan tampak suara-suara digital ini memicu para penari untuk melakukan gerakannya. Secara sederhana dapat disandingkan dengan kondisi; ketika sebuah pesan masuk ditandai dengan sebuah bunyi oleh telepon pintar kita, kita akan cepat mengambil dan memeriksa telepon itu. Sehingga, Human? ingin mengatakan bahwa, meskipun pada masyarakat industri digital, gerakan-gerakan kita masih dipimpin oleh bunyi-bunyian atas nama ketepatan waktu.

Untuk kurikulum selanjutnya, yakni kepatuhan, salah satunya tampak pada bagian adegan yang saya narasikan di awal tulisan. Pada adegan ini tampak tidak ada resistensi atau penolakan dari penari lain, penari penguasa itu “memerintah” penari lain dan diterima dengan patuh oleh mereka. Meskipun yang diperintahkan adalah hal-hal yang menyakitkan. Itu tidak hanya merepresentasikan dunia pekerjaan yang tidak manusiawi, pula dalam pendidikan.

Dari sini, barangkali relevan tawaran Human? dalam “konsep pertunjukan”nya, yaitu pendidikan yang humanis. Tentu saja ranah pendidikan saat ini harus mempertimbangkan setiap pelajarnya secara subjektif, yakni tergantung kondisi dan kebutuhan setiap pelajar. Kesamarataan yang tidak pandang bulu tidak relevan lagi dengan kenyataan keragaman karakter dan fisiologis manusia. Itu jika pendidikan adalah ruang yang melatih manusia menjadi berpengetahuan dan manusiawi, jika tidak, kita mesti sepakat dengan Human? bahwa pendidikan hanya menghasilkan calon pekerja yang siap dieksploitasi industri.